Buka Bersama : Dinamika Lanyard dalam Hierarki Sosial
Gantungan tali untuk meletakkan kartu identitas sebagai tanda pengenal atau biasa disebut lanyard, akhir-akhir menjadi pembicaraan publik. Lanyard seringkali diidentifikasi dengan lingkungan kerja atau pendidikan. Lanyard juga memiliki fungsi sebagai simbol koneksi, akses untuk ke ruang khusus ataupun ke acara penting. Sama seperti halnya dengan simbol-simbol sosial lainnya, makna lanyard juga dapat bervariasi tergantung pada konteks dan interpretasi. Ada yang menganggap bahwa lanyard hanya sebatas aksesori fungsional, ada juga yang menganggap lanyard sebagai penanda kelas sosial.
Pada bulan suci ramadan, tradisi Buka Bersama (bukber) sangat lekat dengan kehidupan, momen ini menjadi kesempatan terbukanya tali silahturahmi yang seringkali dihadiri oleh sejumlah orang besar. Dalam konteks ini, memakai lanyard pada acara bukber dinilai sangat menjengkelkan. Ada masyarakat yang menilai sebagai ajang untuk pamer, ada juga yang menilai sebagai bentuk apresiasi dan bangga terhadap pekerjaannya. Sehingga, banyak masyarakat yang menganggap “pamer lanyard berkedok bukber” yang mencerminkan dinamika dalam hierarki sosial. Sementara bukber seharusnya menjadi momen untuk memperkuat ikatan sosial, dan tali silahturahmi.
Dilansir dari instagram narasinewsroom, Pengamat Sosial UI, Devie Rahmawati menjelaskan lanyard atau produk-produk tertentu yang menjadi simbol dari kelompok dengan posisi tertinggi, itu menjadi sesuatu yang lumrah di masyarakat hierarkis. Devie juga menjelaskan masyarakat Indonesia masuk dalam kategori masyarakat hierarki yang mempercayai adanya tingkatan dalam masyarakat. Akibatnya, ada orang yang dianggap lebih tinggi kedudukannya di masyarakat. Devie menjelaskan mereka yang dianggap lebih tinggi kedudukannya memiliki salah satu dari 4K (kekayaan, kekuasaan, kewibawaan, dan kecerdasan). (JAR)
Teks : Jasmine Al Ramadhani
Tajuk Rencana



Komentar
Posting Komentar