Perkampungan Budaya Betawi : Menyajikan Budaya dan Sejarah Betawi
Perkampungan
Budaya Betawi di Setu Babakan merupakan sebuah kawasan budaya yang terletak di
Desa Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Kawasan ini didirikan oleh pemerintah
sebagai situs pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Perkampungan Budaya
Betawi di Setu Babakan merupakan embrio dari pusat budaya Betawi yang bertujuan
untuk melestarikan budaya, tradisi, adat istiadat, dan seni Betawi di area yang
alami dan terjaga dengan baik.
Inisiatif untuk mendirikan pusat budaya Betawi pertama
kali muncul pada tahun 1990-an, namun baru diikuti oleh Badan Musyawarah
(Bamus) Betawi periode 1996-2001. Pada tahun 1998, Bamus Betawi mengajukan
pembentukan Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Srengseng Sawah,
Jakarta Selatan2. Perkampungan Budaya Betawi memiliki luas sekitar 289 hektar,
terbagi menjadi lima zona. Zona A memiliki Museum Betawi tiga lantai,
amphitheater, rumah-rumah tradisional, area kerajinan, dan fasilitas umum
lainnya. Di sini, sering diadakan pertunjukan seni budaya Betawi seperti tari
Cokek, tari Topeng, Marawis, seni Gambus, Lenong, Tanjidor, Gambang Kromong,
dan pertunjukan Ondel-ondel di panggung terbuka setiap hari kerja. Setiap tahun
pada bulan Juli, sebuah Festival Budaya Betawi khusus diadakan yang melibatkan
pernikahan, upacara sunat, upacara kehamilan tujuh bulan, dan lainnya. Di Zona
E, pengunjung dapat menemukan penjual suvenir, makanan, camilan, dan minuman.
Terdapat banyak warung yang menyajikan kuliner khas Betawi seperti Kerak Telor,
Toge Goreng, Arum Manis, Soto Betawi, Bir Pletok, Nasi Uduk, dan masih banyak
lagi. Kawasan ini juga memiliki dua danau alami, yaitu Setu Babakan dan Setu
Mangga Bolong. Setu Babakan memiliki luas sekitar 32 hektar dan digunakan untuk
budidaya ikan oleh masyarakat Betawi yang tinggal di sekitar danau tersebut.
Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan memiliki
potensi besar untuk pelestarian budaya Betawi. Pemulihan kawasan ini juga
disarankan melalui partisipasi masyarakat setempat, sehingga upaya yang
dilakukan tidak hanya bertahan dalam jangka waktu pendek, tetapi dapat
berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan usaha pemulihan yang
tepat, Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan diharapkan dapat terus
menjadi pusat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi yang bernilai tinggi. (JAR)
Ruang Jakarta
Jasmine Al Ramadhani







Komentar
Posting Komentar